Cara Masyarakat Dataran Tinggi Gayo Terapkan Social Distancing

25-03-2020 19:33:42


Redelong - Maraknya penyebaran covid-19 atau populer disebut virus corona, membuat banyak orang merasa khawatir, cemas, gelisah, dan bahkan ada yang stres. Apalagi Pemerintah juga telah mengeluarkan maklumat social distancing (jaga jarak)
agar semua masyarakat menghindari kerumunan dan dilarang keluar rumah jika tidak ada keperluan yang urgen. 

Imbauan social distancing telah berlangsung selama lebih sepekan. Social distancing dimaksudkan untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus covid-19. Jadi setiap orang harus menjauhi keramaian, juga diharuskan berdiam di rumah. Membuat sebagian orang tak bisa bekerja dan menjadi suntuk. 

Namun, sebagian masyarakat Gayo memiliki kemudahan menerapkan social distancing, yakni beraktivitas di kebun. Masyarakat Gayo yang berada di Dataran Tinggi Gayo (Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues) rerata memiliki kebun dan bermata pencaharian sebagai tani. Karena itu, masyarakat Gayo menghindari keramaian dan bertemu banyak orang dengan melakukan berbagai aktivitas di kebun, seperti mulelang (membersihkan), nebes (membabat), nyumpet (mengganti kopi yang mati) dan ngutip kupi.

Ngutip adalah suatu istilah dalam bahasa Gayo yang berarti memetik. Sementara kupi berarti kopi. Bagi sebagian masyarakat Gayo ngutip telah menjadi profesi tetap mereka, baik yang memiliki kebun atau tidak karena pengutip kopi yang tidak memiliki kebun bisa ngutip di kebun orang sebagai tenaga kerja harian (freelance) atau dapat juga sebagai tenaga kerja tetap (semacam kontrak). Ada juga pengutip dengan sistem namat empus jema, yaitu pemilik kebun menyerahkan urusan mengutip kepada satu orang untuk mengatur segala sesuatunya. 

Jika dia sanggup mengutip sendiri, tidak diajak orang lain. Namun bila tidak sanggup tentu harus diajak orang lain yang dinamakan jamu (tamu) atau ngutip dengan mengajak orang lain (bejamu) ngutip. Kendati bejamu ngutip, tetap diberikan upah oleh pemilik kebun. Tetapi jika bejamu tersebut dalam berume (mengerjakan sawah), maka tidak diberikan upah.

Upah ngutip sangat menjanjikan bahkan bisa melebih Upah Minimum Regional (UMR) bagi pengutip profesional. Sebagai pengutip profesional, hasil kutipannya rata-rata bisa mencapai 8-10 tem (kaleng) perhari. Dengan takaran 1 tem setara 10 bambu/20 liter kopi merah (gelondong). Bahkan ada pengutip yang mampu mencapai 15 kaleng perhari, tetapi itu sangat jarang ditemui. 

Jika dikalkulasikan 10 tem x Rp. 25.000 maka penghasilan pengutip kopi bisa mencapai Rp.250.000 ribu perhari. Rp 250.000 x 30 hari maka pendapatan menjadi 7.500.000 per bulan. Sementara lamanya panen kopi berkisar antara 3-5 bulan dengan masa panen 2 kali setahun.  Berarti per sekali panen bisa mencapai 37.000.000 dan 75.000.000 pertahun. Sementara waktu kopi tidak berbuah atau masa kosong bisa mencapai 3-6 bulan. Pendapatan itu bisa mengalahkan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan III/a. (dn/fa/diskominfo-bm).

Plugins Not Found ../mainx/plugins/0/index.php
Plugins Not Found ../mainx/plugins/0/index.php
Facebook Fans Page